Informasi harga bahan bangunan terupdate bisa kunjungi www.harga-material.com Informasi Wisata bisa kunjungi www.carapiknik.com

Struktur perkerasan jalan beton (Rigid pavement)

Struktur perkerasan jalan beton (Rigid pavement)- Jalan merupakan prasarana utama dalam transportasi. Tanpa jalan, transportasi darat tidak akan berjalan. Banyak sekali type dan klasifikasi jalan yang ada di Indonesia seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya Jenis Klasifikasi jalan di Indonesia. Saat ini perkembangan jalan di Indonesia sedang berkembang, mengingat masih banyak sekali akses-akses jalan yang dibutuhkan untuk menghubungkan antar kota khususnya di daerah perbatasan negara baik berupa jalan tol maupun jalan biasa. Kebanyakan dari akses jalan perkotaan dan antar provinsi di perbatasan negara masih menggunakan type perkerasan lentur (flexible pavement) sedangkan jalan-jalan Tol untuk saat ini lebih banyak menggunakan perkerasan jalan beton atau rigid pavement atau perkerasan kaku.

Saat ini di Indonesia lagi gencar-gencarnya membangun jalan tol untuk menghubungkan antar daerah agar roda perekonomian dapat berjalan dengan baik. Lalu apa saja manfaat lain dari jalan tol ini? baca di artikel Apa yang istimewa dari jalan Tol? 

Pada artikel sebelumnya juga sudah dibahas mengenai struktur jalan pada perkerasan lentur Struktur perkerasan jalan aspal (flexible pavement). Perkerasan jalan aspal mempunyai struktur yang berbeda dengan perkerasan jalan beton (rigid pavement). Perbedaan terdapat pada susunan lapisan strukturnya. Rigid pavement mempunyai lapisan struktur yang lebih sedikit dibanding dengan flexible pavement. Oleh karena itu artikel ini akan khusus membahas mengenai Struktur perkerasan jalan beton (Rigid pavement).  

Perkerasan kaku atau rigid pavement sering digunakan pada jalan yang mempunyai beban lalu lintas besar dan LHR tinggi seperti jalan tol. Ada beberapa keistimewaan mengapa jalan tol menggunakan rigid pavement yaitu lebih awet dan biaya maintenance lebih rendah dibanding menggunakan flexible pavement. Namun secara kenyamanan, pengguna jalan mengaku lebih nyaman lewat di atas jalan aspal dibanding di atas jalan beton. 

Struktur pada perkerasan jalan beton mempunyai spesifikasi khusus yang berbeda dengan spesifikasi perkerasan lentur karena susunan lapisan struktur juga berbeda. Berikut ini contoh gambar cross section jalan pada perkerasan jalan beton. 
Cross section

Gambar di atas adalah potongan melintang pada struktur perkerasan jalan beton atau rigid pavement.  Untuk potongan lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini.
Pendetailan

Pada contoh gambar ini menggunakan timbunan tanah (common embankment) biasa karena memang elevasi rencana sangat tinggi. Tidak semua struktur jalan beton seperti itu. Namun pada umumnya lapisan struktur perkerasan kaku terdiri dari Common embankment, drainage layer, Lean Concrete dan rigid pavement. Berikut penjelasannya. 

1. Common Embankment

Tanah timbunan sangat diperlukan untuk mengejar elevasi rencana. Proses pemadatannya pun tidak sembarangan. Dibutuhkan beberapa trial pemadatan terlebih dahulu untuk mencapai nilai kepadatan (CBR) sesuai spesifikasi. Apabila trial sudah dilakukan dan sudah disetujui oleh konsultan, maka dilakukan metode pemadatan dengan menggunakan alat berat seperti vibro, seepfoot, dan dozer. Tiap proyek melakukan jumlah passing yang berbeda-beda tergantung dari hasil trial. Biasanya langkah pertama adalah tanah timbunan didump di lokasi, kemudian dozer meratakan tanah timbunan dengan ketebalan 50 cm. Setelah itu digilas menggunakan seepfoot roller untuk menghancurkan tanah berbentuk bebatuan besar. Terakhir digilas menggunakan vibro roller sambil diberi air agar hasil lebih padat.

Yang paling penting disini adalah material timbunan harus benar-benar berkualitas yang lulus uji lab pada saat pengambilan di quarry. Jangan sampai ada tanah lempung karena sifat dari tanah lempung susah dipadatkan walaupun digilas berulang-ulang. Biasanya pemadatan dilakukan tiap layer dengan ketebalan tanah gembur 50 cm dan dipadatkan menjadi 30 cm. Setelah satu layer tanah selesai dipadatkan kemudian diuji sandcone. Apabila hasil uji sandcone lebih dari 90% maka bisa dilanjutkan ke layer berikutnya.

Pekerjaan timbunan ini harus benar-benar sesuai mutu dalam kontrak karena apabila terjadi suatu penurunan yang tidak seragam akan menyebabkan kerusakan badan jalan nanti.



2. Drainage layer
Drainage layer adalah suatu layer atau lapisan di atasnya timbunan yang digunakan sebagai pengalir aliran air secara horizontal agar tidak merusak badan jalan. Pada pekerjaan jalan tol, drainage layer menggunakan material agregat A. Agregat A mempunyai spesifikasi tingkat kepadatan 100%. Sehingga hampir sama fungsinya pada lapis pondasi struktur perkerasan aspal. 

Biasanya tebal drainage layer ini sekitar 15 cm padat. Sehingga penghamparan material sekitar 17 cm dan setelah dipadatkan menggunakan vibro roller menjadi 15 cm. Apabila pemadatan selesai maka dilanjut dengan uji sandcone (kepadatan). Minimal hasil uji harus 100%. 

3. Lean Concrete
Lean concrete atau disebut LC ini adalah lantai kerja untuk pekerjaan rigid pavement. Sehingga lapisan ini bukan termasuk lapisan struktur. Namun wajib ada sebelum pekerjaan beton (rigid). Fungsinya hanya sebagai lantai kerja agar air semen tidak meresap ke dalam lapisan bawahnya. Tebal LC ini biasanya 10 cm. LC ini pada dasarnya terbuat dari beton dengan mutu K175. Proses pelaksanaannya cukup mudah. Beton dari truck mixer dituang kemudian diratakan menggunakan jidar oleh tukang. 

4. Rigid Pavement
Pekerjaan rigid adalah pekerjaan yang berbobot besar dalam kontrak dan termasuk pekerjaan utama pada jalan Tol. Beton yang digunakan menggunakan kelas mutu P dengan tebal 29 cm. Proses pengecoran beton rigid ini menggunakan bantuan alat berat Wirgent dan GNZ. Kedua alat berat tersebut termasuk alat canggih khusus untuk menggelar dan memadatkan beton. Berikut mutu yang harus diikuti sesuai spesifikasi rigid pavement.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas perkerasan jalan beton ini adalah mutu beton dan pelaksanaan. Beton harus benar-benar terjaga mutunya sampai di lokasi pengecoran. Syarat slump yang digunakan adalah 4-6 cm. Apabila terlalu encer Wirgent atau GNZ tidak bisa menggelar dan memadatkan beton dengan baik sehingga kualitasnya pun berpengaruh. Metode pelaksanaan di lapangan juga akan berpengaruh terhadap hasil rigid pavement. Diperlukan tenaga kerja yang berpengalaman dan mengerti penggunaan alat wirgent dan GNZ. 

Demikian sedikit penjelasan mengenai struktur perkerasan jalan beton (rigid Pavement). Semoga bermanfaat. 
Untuk Info Lebih lanjut silahkan gabung dengan grup facebook Ilmu Proyek & Info Harga


Blog, Updated at: 5:27 AM

Post a Comment

Informasi Wisata